LANSKAPBERITA.COM — Harga solar di Amerika Serikat menembus sekitar USD 6,33 per galon, sekitar 50 sen di atas rekor sebelumnya. Penasihat energi Gulf Oil, Tom Kloza, memperingatkan tekanan biaya bagi armada truk, pemilik-operator tunggal, dan pengirim barang belum akan mereda dalam 100 hari ke depan.
Tom Kloza, chief energy advisor Gulf Oil, menilai operator truk dan pengirim barang belum bisa berharap banyak pada penurunan harga dalam waktu dekat. Menurut dia, gangguan geopolitik, permintaan musiman, dan kapasitas kilang yang terbatas sama-sama mendorong harga naik.
Kilang Dunia Kehilangan 7 Juta Barel per Hari
Penutupan pipa East-West milik Arab Saudi memperparah pasokan yang sudah ketat. Menteri Energi AS Chris Wright menyebut penutupan itu berlangsung beberapa hari, tetapi Kloza menduga bisa mencapai 40 hingga 50 hari.
Dampaknya, Arab Saudi menangguhkan pengiriman minyak untuk pasokan September ke Eropa. Pipa tersebut juga memasok kilang di sepanjang Laut Merah yang dikendalikan Saudi, dengan kapasitas sekitar 1,8 juta barel per hari atau sekitar 2% dari throughput global.
Ditambah kerugian sebelumnya, Kloza menyebut dunia sudah kehilangan sekitar 7 juta barel per hari kapasitas kilang. Sebagian besar berada di Rusia dan Teluk Persia.
"You know, you're talking about $9 and $10 in Europe and you're talking about $8.27 in California right now," kata Kloza. "These are the kind of numbers that you would call stupid numbers if somebody suggested them a while ago."
Kloza juga menyoroti harga solar di Eropa dan California yang jauh lebih tinggi. Menurut dia, jika minyak mentah diperdagangkan normal terhadap harga solar Eropa dan AS, harganya setara sekitar USD 175 per barel.
Margin SPBU Truk Menipis
Margin bahan bakar di pusat perhentian truk ikut tertekan karena harga ritel tertinggal dari biaya grosir. Kloza mencatat margin rata-rata bergeser dari sekitar USD 0,04 per galon menjadi sekitar USD 0,07 per galon.
Harga jual di pompa biasanya sekitar USD 0,40 di atas biaya, sehingga penyesuaian harga masih akan berlanjut. Kondisi itu merugikan pusat perjalanan dua arah: harga yang tinggi menahan pengemudi membeli barang bermargin besar di dalam toko.
Kloza menambahkan, hanya sekitar 2% pembelian bahan bakar di pusat perjalanan besar kini dilakukan di harga pompa ritel. Mayoritas mengalir lewat program diskon dan aplikasi yang berkembang lima tahun terakhir.
Ancaman Larangan Ekspor Jadi Tuas Harga
Kloza menyebut satu tuas yang bisa menekan harga bagi pemerintah federal: ancaman pembatasan ekspor produk kilang. Menurut dia, sebagian besar analis menilai pembatasan riil buruk bagi kilang, tetapi ancaman yang kredibel saja bisa mengusir dana spekulatif dari pasar berjangka solar dan bensin.
Posisi "hot money" di pasar berjangka disebut sudah menumpuk untuk taruhan harga naik, berbeda dari pasar minyak mentah.
Ada satu kabar baik: untuk pertama kalinya dalam sekitar tujuh hingga delapan tahun, minyak kedelai sebagai bahan baku utama biodiesel dan diesel terbarukan turun di bawah harga solar konvensional. Kloza menyebut pabrik biodiesel dan diesel terbarukan yang ada beroperasi penuh karena margin melonjak, dan produksi baru bisa menyusul dalam hitungan bulan, bukan tahun seperti izin kilang konvensional.
Kloza memperkirakan harga solar USD 3 per galon sudah lewat untuk setidaknya 15 hingga 16 bulan ke depan. Permintaan pemanas di kawasan Timur Laut AS, tempat molekul solar dan minyak pemanas bisa saling menggantikan, akan menambah tekanan pada pasokan distilat saat suhu turun.