LANSKAPBERITA.COM — Rodrigo membagikan kisah ini dalam sebuah perbincangan bersama sutradara Cameron Crowe di Museum Grammy, Los Angeles. Momen itu digelar untuk merayakan eksibisi barunya bertajuk Olivia Rodrigo: "the cure" Unraveled, yang terinspirasi dari estetika kerajinan tangan di video musiknya.
Lagu Cinta yang Sedikit "Retak" Terasa Paling Manusiawi
Cerita menarik justru muncul dari proses kreatif album terbarunya, You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love. Awalnya Rodrigo ingin menantang diri menulis lagu cinta dengan nuansa positif seutuhnya.
Namun ia sadar, karya paling kuat justru lahir dari kerentanan. "Saya rasa itulah alasan mengapa album ini diberi judul You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love," jelasnya kepada Crowe.
Menurutnya, ada rasa takut, sisi rapuh, atau sesuatu yang sedikit retak dalam lagu cinta yang membuatnya terasa lebih dekat dengan pendengar. Kebahagiaan dan kesedihan, baginya, bisa hadir bersamaan dalam satu pengalaman emosional.
Perfeksionisme Justru Bikin Kreativitas Mandek
Rodrigo juga membagikan pandangannya soal perfeksionisme yang kerap menghantui penulis lagu. Ia menilai rasa takut menghasilkan karya buruk justru menjadi penghalang terbesar.
"Saya pikir perfeksionisme tidak akan membantu Anda saat sedang menulis lagu," ujar pelantun drivers license itu.
Ia punya kebiasaan yang menarik: sering menemukan satu baris lirik yang bagus dari lagu yang akhirnya tidak dirilis. Potongan kecil itu lalu ia simpan dan bisa menjadi titik awal lagu baru. Menurut Rodrigo, proses kreatif justru butuh ruang untuk bereksperimen, termasuk menghasilkan banyak draf yang tidak terpakai.
Waktu yang dibutuhkan tiap lagu juga berbeda. Lagu honeybee rampung dalam waktu singkat, sementara stupid song butuh sekitar satu setengah tahun sampai terasa benar-benar selesai.
Berawal dari Drama Ekspektasi Album Debut
Cerita ini berakar dari tekanan besar yang ia rasakan setelah kesuksesan album debutnya, SOUR (2021). Album itu langsung menduduki puncak Billboard 200, membuat ekspektasi terhadap karya berikutnya melambung tinggi.
"Pada album kedua saya, tekanannya terasa sangat besar," ungkap Rodrigo, seperti dikutip Billboard.
Saat menggarap GUTS (2023) ia dihantui kecemasan dan keraguan. Berbeda dengan album ketiganya yang justru terasa menyenangkan, proses kreatif GUTS sempat membebani karena ia terlalu fokus memenuhi ekspektasi orang lain.
Kini Rodrigo merasa kembali terhubung dengan alasan awal mengapa ia mencintai musik. Ia lebih bebas mengikuti naluri kreatif tanpa takut penilaian, dan dari sanalah album terbarunya justru lahir dengan lebih natural.