JAKARTA - Konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, mencatat kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB mencapai 53,88%.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat 4,96% secara quarter-to-quarter. Hal ini menjadikan konsumsi sebagai komponen terbesar yang mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% year-on-year dari sisi pengeluaran.
“Seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif di tahun 2025. Komponen dengan distribusi terbesar adalah konsumsi rumah tangga dengan distribusi atau kontribusi 53,88% dan pertumbuhannya pada 2025 sebesar 4,98%,” terang Amalia pada konferensi pers di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.
Investasi dan Pembentukan Modal Tetap Bruto
Selain konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi memberikan kontribusi signifikan. Distribusinya mencapai 28,77% dengan pertumbuhan sebesar 5,09% sepanjang 2025.
Pertumbuhan PMTB terlihat dari meningkatnya berbagai indikator barang modal. Hal ini mencakup impor mesin produksi, industri mesin, belanja pemerintah untuk peralatan mesin, serta impor kendaraan.
“Pertumbuhan PMTB ini sejalan dengan peningkatan realisasi investasi yang dicatat oleh BKPM sebesar 12,66%,” lanjut Amalia. Hal ini menunjukkan bahwa sektor investasi tetap menjadi tulang punggung untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Ekspor dan Konsumsi Pemerintah
Kontributor penting berikutnya berasal dari ekspor, baik komoditas maupun jasa, dengan distribusi sebesar 22,85%. Pertumbuhan ekspor merupakan yang tertinggi di antara sisi pengeluaran lainnya, mencapai 7,03%.
Komoditas unggulan yang meningkat antara lain lemak dan minyak hewan nabati seperti CPO, besi dan baja, mesin dan peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya. Ekspor jasa meningkat seiring dengan naiknya kunjungan wisatawan mancanegara.
Konsumsi pemerintah turut mendukung pertumbuhan dengan kontribusi 7,53% dan pertumbuhan sebesar 2,5%. Sementara itu, konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) memberikan kontribusi 1,3% dengan pertumbuhan 5,13%.
Sumber Pertumbuhan dari Setiap Komponen
Dari segi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, konsumsi rumah tangga memberikan sumber terbesar yakni 2,62%. Disusul oleh PMTB sebesar 1,58%, konsumsi pemerintah 0,19%, dan ekspor 0,74%.
Fakta ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya didorong oleh satu sisi pengeluaran, tetapi konsumsi rumah tangga tetap menjadi mesin utama. Kondisi ini mencerminkan pentingnya aktivitas masyarakat dalam menopang perekonomian nasional.
Faktor yang Mendorong Konsumsi Rumah Tangga
Amalia menyebut konsumsi rumah tangga sepanjang 2025 didorong oleh aktivitas dan mobilitas masyarakat yang meningkat. Kelompok konsumsi yang tumbuh tinggi adalah restoran dan hotel, seiring dengan meningkatnya kegiatan wisata selama libur akhir tahun.
“Yang ini tercermin pada peningkatan perjalanan wisata nusantara, kemudian juga konsumsi transportasi dan komunikasi yang juga tumbuh tinggi,” papar Amalia. Hal ini menunjukkan adanya korelasi positif antara mobilitas masyarakat dan permintaan barang dan jasa di sektor domestik.
Pertumbuhan Ekonomi Didukung Aktivitas Domestik dan Global
Selain konsumsi, pertumbuhan PMTB dan ekspor menjadi penopang penting ekonomi Indonesia. PMTB mencerminkan investasi dalam infrastruktur dan mesin produksi, sementara ekspor menunjukkan kemampuan Indonesia bersaing di pasar global.
Peningkatan ekspor tidak hanya dari nilai, tetapi juga volume. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan internasional terhadap produk Indonesia tetap kuat, baik untuk komoditas maupun jasa wisata.
Dengan kinerja positif dari semua sisi pengeluaran, ekonomi Indonesia mampu mencatat pertumbuhan 5,11% sepanjang 2025. Peran konsumsi rumah tangga tetap menonjol sebagai motor utama, sekaligus mencerminkan daya beli dan mobilitas masyarakat yang meningkat.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Meski pertumbuhan konsumsi cukup tinggi, Indonesia perlu terus mendorong sektor lain agar pertumbuhan lebih merata. Investasi, ekspor, dan konsumsi pemerintah harus dioptimalkan agar ekonomi semakin resilient.
Secara keseluruhan, kombinasi antara konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor membentuk fondasi yang kuat bagi ekonomi Indonesia. Fokus pada penguatan daya beli masyarakat dan peningkatan kapasitas investasi akan memastikan pertumbuhan berkelanjutan di masa depan.