Tips Konsumen Mengamankan Akun Belanja Online Menjelang Ramadhan 2026

Jumat, 20 Februari 2026 | 13:48:01 WIB
Tips Konsumen Mengamankan Akun Belanja Online Menjelang Ramadhan 2026

JAKARTA - Menjelang Ramadhan 2026, aktivitas belanja online di Indonesia diproyeksikan meningkat signifikan. Fenomena ini seiring dengan semakin meluasnya adopsi kanal digital, meski risiko penipuan siber tetap mengintai konsumen.

Chairman Communication & Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha menegaskan, keamanan transaksi online masih menjadi tantangan nyata di Indonesia. “Di tengah meningkatnya aktivitas belanja online, khususnya menjelang Ramadhan, konsumen perlu semakin waspada terhadap modus penipuan digital yang kian beragam,” katanya pada Jumat, 20 Februari 2026.

Modus Penipuan yang Kian Kompleks

Data Bank Indonesia menunjukkan nilai transaksi digital terus bertumbuh, mendorong peluang kejahatan siber meningkat. Hingga Juli 2025, transaksi digital di Indonesia mencapai Rp44,4 triliun dan diperkirakan terus meningkat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

Pelaku kejahatan siber memanfaatkan momentum ini dengan berbagai modus, mulai phishing, situs palsu, hingga pencurian data pribadi. Laporan berbagai lembaga keamanan siber nasional mencatat serangan phishing dan social engineering cenderung melonjak saat periode belanja besar seperti Ramadhan dan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas).

Langkah E-Commerce Memperkuat Keamanan

Pratama menyebut modus yang paling banyak ditemukan adalah phishing berbasis pesan instan, impersonasi customer service, dan penyalahgunaan tautan pelacakan pengiriman palsu. Literasi keamanan digital menjadi kunci agar masyarakat tetap dapat menikmati kemudahan eCommerce tanpa mengorbankan keamanan.

Intan Eugenia, Head of Customer Experience Lazada Indonesia, mengatakan perusahaan rutin memperkuat sistem keamanan dan memantau transaksi. “Kami juga rutin mengingatkan pelanggan untuk menggunakan fitur resmi di aplikasi Lazada, mulai metode pembayaran hingga kanal komunikasi dengan penjual, agar setiap transaksi tetap aman dan terlindungi,” ujarnya.

Tips Konsumen untuk Mengamankan Akun Belanja Online

Tidak hanya platform e-commerce, konsumen juga perlu proaktif menjaga keamanan akun. Beberapa langkah penting termasuk menggunakan password kuat dan unik serta mengaktifkan autentikasi dua faktor atau verifikasi biometrik di aplikasi.

Transaksi harus dilakukan hanya melalui platform resmi dan tepercaya untuk menghindari risiko penipuan. Waspadai juga tautan yang mengatasnamakan hadiah, diskon, atau jasa logistik palsu, termasuk tautan pelacakan paket yang menipu.

Hindari menginstal aplikasi dari luar toko resmi seperti Google Play Store atau App Store. Aplikasi semacam ini bisa meminta izin akses berlebihan, mulai dari membaca SMS, merekam layar, hingga mengendalikan perangkat dari jarak jauh.

Jangan pernah membagikan kode OTP kepada pihak manapun, termasuk yang mengaku karyawan platform eCommerce. Konsumen juga harus menolak permintaan berbagi layar saat transaksi karena memungkinkan pelaku melihat aktivitas pribadi, termasuk mobile banking, PIN, dan kode OTP.

Kesadaran Konsumen sebagai Lapisan Pertahanan Terpenting

Pratama menegaskan, penguatan keamanan siber tidak bisa hanya mengandalkan platform eCommerce. “Meski berbagai solusi dan teknologi perlindungan terus dikembangkan, kesadaran pengguna tetap menjadi lapisan pertahanan terpenting,” ujarnya.

Dengan meningkatnya belanja digital menjelang Ramadhan 2026, literasi keamanan dan kewaspadaan konsumen menjadi penentu utama agar transaksi online tetap aman. Keamanan siber yang optimal memerlukan kolaborasi antara platform, regulasi, dan perilaku hati-hati pengguna.

Terkini